Profil Singkat Demis Hassabis
Demis Hassabis adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) modern. Ia dikenal sebagai pendiri dan CEO DeepMind, perusahaan riset AI yang diakuisisi Google pada tahun 2014. Di bawah kepemimpinannya, DeepMind menghasilkan berbagai terobosan besar, mulai dari AlphaGo yang mengalahkan juara dunia permainan Go, hingga AlphaFold yang memecahkan misteri struktur protein pencapaian yang membuatnya dianugerahi Hadiah Nobel Kimia tahun 2024.
Selain sebagai ilmuwan komputer, Demis juga seorang mantan master catur, desainer video game, dan peneliti neuroscience. Kombinasi pengalaman unik itulah yang membentuk visinya dalam menciptakan AI yang mampu meniru kemampuan kognitif manusia.
Kehidupan Awal dan Latar Belakang
Demis Hassabis lahir pada 27 Juli 1976 di London, Inggris, dari ayah keturunan Greek Cypriot dan ibu asal Singapura. Sejak kecil, ia menunjukkan bakat luar biasa di bidang intelektual dan strategi. Pada usia 4 tahun, ia sudah bisa bermain catur dan di umur 13 tahun ia mencapai gelar master internasional junior, berada di peringkat kedua dunia untuk kategori usianya.
Ketertarikannya pada kecerdasan buatan berawal sejak kecil, di mana ia membayangkan bagaimana mesin bisa meniru cara kerja otak manusia. Selain itu, ia tumbuh dengan kecintaan pada video game dan logika, yang kelak berpengaruh besar pada karier profesionalnya.
Pendidikan dan Riset Awal
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Hassabis melanjutkan studi di University of Cambridge dengan jurusan Computer Science. Ia lulus dengan nilai tertinggi (double first class honors), membuktikan kemampuannya sebagai salah satu mahasiswa terbaik.
Tak puas hanya dengan ilmu komputer, Hassabis kemudian menempuh studi PhD dalam bidang neuroscience kognitif di University College London (UCL). Fokus risetnya adalah bagaimana otak manusia membentuk memori, berimajinasi, dan melakukan proses pengambilan keputusan. Riset ini sangat penting karena menjadi inspirasi dalam menciptakan model AI yang meniru cara kerja otak manusia.
Karier Awal: Dunia Game dan Teknologi
Sebelum terjun penuh ke riset AI, Demis sempat bekerja di industri video game. Ia menjadi lead programmer untuk game terkenal seperti Theme Park saat bekerja di Bullfrog Productions. Setelah itu, ia mendirikan studio game sendiri bernama Elixir Studios.
Pengalaman di dunia game memberinya pemahaman mendalam tentang simulasi, kecerdasan buatan dalam game, dan interaksi manusia-mesin. Hal ini terbukti sangat berguna ketika ia beralih sepenuhnya ke riset AI.
Mendirikan DeepMind
Pada tahun 2010, bersama Shane Legg dan Mustafa Suleyman, Demis mendirikan DeepMind Technologies di London. Visi awal DeepMind adalah menciptakan Artificial General Intelligence (AGI), yaitu AI yang tidak hanya mahir dalam satu tugas, tapi mampu belajar berbagai keterampilan layaknya manusia.
Hanya dalam waktu singkat, DeepMind menarik perhatian global berkat pendekatan inovatif mereka dalam deep reinforcement learning. Google kemudian mengakuisisi DeepMind pada tahun 2014 dengan nilai sekitar £400 juta (lebih dari Rp7 triliun), menjadikannya salah satu akuisisi teknologi terbesar di Inggris saat itu.
Terobosan Besar DeepMind
1. AlphaGo
Pada tahun 2016, DeepMind meluncurkan AlphaGo, AI yang berhasil mengalahkan juara dunia permainan Go, Lee Sedol. Kemenangan ini dianggap tonggak sejarah, karena Go adalah permainan dengan kombinasi langkah yang hampir tak terhingga dan selama ini dianggap mustahil ditaklukkan oleh mesin.
2. AlphaZero
DeepMind kemudian mengembangkan AlphaZero, versi yang lebih canggih dan fleksibel. AlphaZero tidak hanya mahir bermain Go, tapi juga bisa menguasai catur dan shogi dengan cara belajar sendiri (self-play).
3. AlphaFold
Prestasi paling monumental datang pada tahun 2020 dengan hadirnya AlphaFold, sistem AI yang mampu memprediksi struktur protein secara akurat. Penemuan ini menyelesaikan masalah ilmiah yang sudah menjadi teka-teki selama lebih dari 50 tahun. AlphaFold memiliki dampak besar pada dunia biologi, kedokteran, dan penemuan obat.
Atas pencapaian ini, Demis Hassabis bersama timnya dianugerahi Nobel Kimia pada tahun 2024.
Visi tentang Artificial General Intelligence (AGI)
Demis percaya bahwa kecerdasan buatan akan menjadi teknologi paling transformatif dalam sejarah manusia. Fokusnya bukan hanya menciptakan mesin pintar, tapi mesin yang bisa belajar, berimajinasi, dan memecahkan masalah lintas domain.
Menurutnya, AGI harus dikembangkan dengan hati-hati agar memberi manfaat maksimal bagi umat manusia. Oleh karena itu, ia juga terlibat dalam diskusi global tentang etika, regulasi, dan dampak sosial AI.
Penghargaan dan Prestasi
Beberapa penghargaan bergengsi yang diraih Demis Hassabis antara lain:
Nobel Prize in Chemistry (2024) atas kontribusi AlphaFold.
Commander of the Order of the British Empire (CBE) pada tahun 2017.
Masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh versi TIME beberapa kali.
Penghargaan Royal Society Mullard Award untuk kontribusi pada sains dan inovasi.
Kehidupan Pribadi
Meski dikenal sebagai sosok yang visioner di dunia teknologi, Demis cenderung menjaga kehidupan pribadinya tetap sederhana dan tidak terlalu terekspos media. Ia dikenal rendah hati, fokus pada riset, serta peduli pada pengembangan sains untuk kepentingan umat manusia.
Hassabis kini dianggap sebagai salah satu arsitek utama masa depan AI. Pandangan dan keputusan yang ia buat di DeepMind akan sangat berpengaruh terhadap arah perkembangan kecerdasan buatan dunia. Dengan fokus pada etika, sains, dan keberlanjutan, Demis berusaha memastikan AI menjadi kekuatan positif bagi peradaban.
Demis Hassabis bukan hanya seorang ilmuwan komputer, tetapi juga visioner yang berhasil memadukan catur, neuroscience, video game, dan AI menjadi satu perjalanan luar biasa. Dari anak ajaib pecatur, programmer game, hingga ilmuwan penerima Nobel, kisah hidupnya adalah bukti bahwa rasa ingin tahu dan kerja keras bisa mengubah dunia.
Melalui DeepMind, ia terus mendorong batas kemampuan mesin untuk mendekati kecerdasan manusia. Dengan pencapaiannya yang monumental, tidak diragukan lagi bahwa Demis Hassabis akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam era kecerdasan buatan.
